Hey, I'm Dwiqiu!

Edison, New Jersey

GudangBokepOnline – sebelumnya setelah ada cerita Nikmati Istri Pak Lurah Ampe Crot Di dalam, saat ini ada narasi Bercinta Dengan Mama Mertua Waktu Istri Pergi. selamat membaca dan nikmati suguhan pribadi bacaan narasi dewasa terkini seks bermotif yang hot serta ditanggung dahsyat menambah hasrat birahi sex ngentot.
Kenalkan dahulu namaku Evan. Udah seminggu ini saya ada dalam rumah sendirian. Istriku Laras, tengah ditugaskan dari kantor tempatnya bekerja buat mengikut satu training yang dijalankan di kota lain sepanjang dua minggu.

Jujur saja saya jadi kesepian pula rasa-rasanya. Kalaupun pengen tidur rasa-rasanya kok aneh pula, kok sendirian serta sepi, meski sebenarnya rata-rata ada istri di sisiku. Betul-betul perkimpoian kami belum diberikan anak. Wajar baru satu tahun berjalan. Lantaran sendirian itu, serta mahfum sebab otak lelaki, pemikirannya jadi kemana saja.

Saya terkenang insiden yang saya alami dengan mama mertuaku. Mama mertuaku bukanlah ibu kandungan istriku, sebab ibu kandungan Laras udah wafat. Ayah mertuaku lantas kimpoi kembali dengan mama mertuaku yang saat ini serta kebenaran tidak punyai anak. Mama mertuaku ini umurnya lebih kurang 40 tahun, parasnya ayu serta badannya serius sintal dan padat sesuai wanita idamanku.

Buah dadanya besar sesuai sama pinggulnya. Demikian pula pantatnya bahenol sekali. Saya kerap mengandaikan mama mertuaku itu bila tengah terlentang nyata vaginanya membusung ke atas terhambat pantatnya yang besar itu. Hemm, benar-benar menarik.

Insiden itu berlangsung di saat malam 2 hari sebelumnya hari perkawinanku dengan Laras. Masa itu saya duduk berdua di kamar keluarga sekalian mengulas penyiapan perkimpoianku. Tiba-tiba lampu mati. Dalam kegelapan itu, mama mertuaku (masa itu masih calon) berdiri, saya berpikir akan cari lilin, tapi malahan mama mertuaku merengkuh dan menciumi pipi serta bibirku secara halus dan mesra. Saya terkejut serta melongo sebab saya tidak menyangka benar-benar diciumi oleh calon mama mertuaku yang elok itu.

Hari-hari seterusnya saya punya sikap seperti biasanya, demikian pula mama mertuaku. Pada masa-masa saya duduk berdua sama dia, saya kerap membulatkan niat melihat mama mertuaku makin lama, dan ia rata-rata tersenyum manis dan berujar, "Apaa..?, sudah-sudah, mama jadi malu".

Jujur saja saya sesungguhnya rindukan supaya dapat bermesraan dengan mama mertuaku itu. Saya kadangkala sangatlah berasa bersalah dengan Laras istriku serta ayahku mertua yang murah hati. Kadang saya begitu kurang ajar memikirkan mama mertuaku digagahi ayah mertuaku, saya asumsikan kemaluan ayah mertuaku masuk-keluar vagina mama mertuaku, Ooh alangkah…! Namun saya terus menempatkan hormat pada ayah dan mama mertuaku. Aku menonton StreamingBokepOnline tiba tiba saja Mama mertuaku pun sayang sama kami, biarpun Laras yaitu anak tirinya.

Pagi-pagi hari seterusnya, saya ditelepon mama mertuaku, meminta supaya sore harinya saya bisa membawa mama melihat kerabat yang tengah ada dalam rumah sakit, sebab ayah mertuaku tengah ke kota lain untuk kepentingan usaha. Saya sich sepakat saja. Sore harinya kami jadi ke rumah sakit, dan pulang telah seusai maghrib. Seperti umumnya saya senantiasa berlaku santun serta hormat di mama mertuaku.

Dalam perjalan pulang itu, saya membulatkan tekad ajukan pertanyaan, "Ma, ngapain sich dahulu mama kok cium Evan?".

"Aah, kamu ini kok masih diingat pun siih", jawab mamaku sembari memandangku.

"Terang dong maa…, Kan asyiik", kataku memikat.

"Naah, makin kurang ajar thoo, Ingat Laras lho…, Kelak terdengaran ayahmu bisa pula gempar".

"Tapii, sesungguhnya mengapa siih ma…, Evan jadi ingin tahu lho".

"Aah, ini anak kok tidak ingin diem siih, Namun eeh…, anu…, Van, sesungguhnya kala itu, waktu kita jagongan itu, mama tonton cakepgmu itu kok rupawan sekali. Hidungmu, bibirmu, matamu yang cukup kurang ajar itu kok bikin mama jadi gemes sekali deeh sama kamu. Karena itu waktu lampu mati itu, tidak tahu setan darimanakah, mama jadi ingin sekali menciummu dan memelukmu. Mama sebetulnya jadi malu sekali. Mama ragam apa saya ini, waktu saksikan menantunya sendiri kok blingsatan".

"Kemungkinan, setannya ya Evan ini Ma…, Sekarang setannya itu deg-degan kalaupun saksikan mama mertuanya. Mama bisa yakin bisa tak, kadangkala jika Evan kembali sama Laras, jadi bayangin Mama lho. Benar-benar nih. Sumpah dech. Bila Mama pernah bayangin Evan gak jika kembali sama Bapak", saya bertambah berani.

"aah gak tahu ah…, udaah…, udaah…, kelak bila keterusan kan tidak baik. Berhati-hati kemudinya. Kelak kalaupun nabrak-nabrak dikiranya nyetir sekalian pujaan hatian ama mama mertuanya. Tentu mama yang disalahin orang, Disangkanya yang tua niih yang ngebet", tukasnya.

"Walau sebenarnya kekeduanya ngebet lo Ma. Ma, maafin Evan deeh. Evan menjadi pengiin sekali sama mama lho…, Bagaimana niih, punyai Evan sakit tercepit celana nihh", saya kian berani.

"Aduuh, tidak boleh begitu dong. Mama jadi sulit nih. Tetapi terang-terangan saja van.., Mama jadi seperti orang suka sama kamu.., Jika telah berikut, telah naik berikut ini, mama jadi pengen ngeloni kamu Van…, Van kita cepat pulang saja yaa…, Kelak diterusin dirumah…, Kita pulang ke rumahmu saja sekarang…, Toh kembali kosong khan…, Namun Van minggir sesaat Van, mama mau cium kamu di sini", kata mama dengan nada bergetar.

ooh saya jadi berdebar sekali. Kemungkinan tergoda pula lantaran saya telah 1 minggu tak bersetubuh dengan istriku. Saya jadi hasrat sekali. Saya minggir di area yang cukup gelap. Sesungguhnya kaca mobilku sudah gelap, maka dari itu tak takut tertangkap orang. Saya dan mama mertuaku berpelukan, berciuman secara lembut penuh kangen. Serius, sekian lama ini kami sama sama rindukan.

"eehhm…, mama rindu sekali van", bisik mama mertuaku.

"Evan pula maa", bisikku.

"van…, sudah dahulu Van…, eehmm telah dahulu", napas kami mengincar.

"Marilah jalan lagi…, Berhati-hati yaa", kata mama mertuaku.

"Ma penisku tercepit niih…, Sakit", kataku.

"iich anak nakal", Pahaku dicubitnya.

"Okey…, membuka dahulu ritsluitingnya", ucapnya.

Segera saya membuka celanaku, saya turuni celana dalamku. Woo, langsung berdiri tegang sekali. Tangan kiri mama, saya bimbing untuk menggenggam penisku.

"Aduuh Van. Gede sekali pelirmu…, Agar mama pegangin, Marilah jalan. Berhati-hati kemudinya".

Saya tambahkan persneling satu, serta mobil melesat pulang. Penisku dipegangi mama mertuaku, jempolnya mengelus-elus kepala penisku secara lembut. Aduuh, gelii… sangatlah nikmat. Mobil berjalan tenang, kami diam diri, namun tangan mama lagi memijat dan mengelus-elus penisku secara lembut.

Sampai di rumahku, saya turun buka pintu, dan masuk langsung garasi. Garasi saya tutup kembali lagi. Kami bergandengan tangan masuk di ruangan tamu. Kami duduk di sofa dan berpandangan dengan penuh kangen. Keadaan demikian hening dan romantis, kami berangkulan kembali, berciuman kembali, tambah menggebu-gebu. Kami tumpahkan kangen kami. Saya ciumi mama mertuaku dengan penuh gairah. Saya rogoh buah dadanya yang selamanya saya pikirkan, aduuh betul-betul besar dan halus.

"Ma, Evan rindu sekali Maa…, Evan rindu sekali".

"Aduuh Van, mama juga…, Peluklah mama Van, peluklah mama" nafasnya bertambah mengincar.

Matanya terpejam, saya ciumi matanya, pipinya, saya lumat bibirnya, serta lidahku saya masukan ke mulutnya. Mama lumayan terkejut dan buka matanya. Lalu dengan langsung lidahku dihisapnya dengan penuh hasrat.

"Eehhmm.., Van, mama tidak pernah kecupan seperti ini…, Kembali Van masukan lidahmu ke mulut mama"

Mama mendorongku perlahan, memandangku dengan mesra. Dirangkulnya kembali diriku serta berbisik, "Van, bawa Mama ke kamar…, Tambah enak di kamar, tidak boleh di tempat ini".

Dengan pelukan kami masuk ke dalam kamar tengah yang kosong. Saya terasa tak sedap dalam tempat tidur kami. Saya berasa tak sedap dengan Laras jika kami pakai tempat tidur di kamar kami.

"Ma kita gunakan kamar tengah saja yaa".

"Okey, Van. Saya pula gak nikmat gunakan kamar tidurmu. Lebih bebas di kamar ini", kata mama mertuaku penuh pemahaman. Saya remas pantatnya yang bahenol.

"iich.., fundamen anak nakal", mama mertuaku merengut manja.

Kami duduk dalam tempat tidur, sekalian beciuman saya membuka kemeja mama mertuaku. Saya benar-benar takjub dengan kulit mamaku yang putih bersih serta mulus dengan buah dadanya yang besar menggantung elok. Mama saya rebahkan dalam tempat tidur. Celana dalamnya saya pelorotkan dan saya pelorotkan dari kakinya yang bagus. Lagi saya terpesona lihat vagina mama mertuaku yang tebal dengan bulunya yang tebal keriting. Seperti saya mengayalkan sejauh ini, vagina mama mertuaku betul mencolok ke atas terhalang pantatnya yang besar. Saya tidak kuat kembali melihat keelokan mama mertuaku terlentang di depanku. Saya membuka kemejaku serta penisku telah betul-betul tegak prima. Mama mertuaku memandangku tanpa berkedip. Kami sama sama rindukan kebersama-samaan ini. Saya tiduran miring dari sisi mama mertuaku. Saya ciumi, kuraba, kuelus seluruhnya, dari bibirnya sampai pahanya yang mulus.

Saya remas halus buah dadanya, kuelus perutnya, vaginanya, klitorisnya saya main-mainkan. Liangnya vaginanya telah basah. Jariku saya basahi dengan cairan vagina mama mertuaku, dan saya sapukan halus di clitorisnya. Mama menggeliat kesenangan dan mendesis-desis. Sesaat peliku digenggam mama serta dielus-elusnya. Kangen kami sekian lama ini udah mendorong buat ditumpahkan dan diselesaikan malam hari ini. Mama menggelinjang-geliat, meremas-remas kepalaku dan rambutku, mengelus punggungku, pantatku, dan selanjutnya menggenggam penisku yang telah bersedia masuk dalam liang vagina mama mertuaku.

"Maa, saya kaangen sekali Maa…, Evan kanget banget…, Evan anak nakal ma..", bisikku.

"Van…, mama juga. sshh…, masukin Van…, masukin sekarang…, Mama telah pengiin sekali Van, Vanm…", bisik mamaku tersengal-sengal. Saya naik ke atas mama mertuaku bertelakn di siku serta lututku.

Tangan kananku mengelus mukanya, pipinya, hidungnya dan bibir mama mertuaku. Kami berpandangan. Berpandangan amat mesra. Penisku dibimbingnya masuk di liang vaginanya yang udah basah. Ditempelkannya dan digesek-gesekan di bibir vaginanya, di clitorisnya. Tangan kirinya menggenggam pantatku, menghimpit turun sedikit serta melepas dorongannya memberinya instruksi penisku.

Kaki mama mertuaku dikangkangnya lebar-lebar, serta saya tidak sabar kembali buat masuk di vagina mama mertuaku. Kepala penisku mulai masuk, kian dalam, semakin dalam serta selanjutnya masuk semua hingga ke pangkalnya. Saya mulai naik-turun secara teratur, masuk keluar, keluar masuk di vagina yang basah dan licin. Aduuh enaak, enaak sekali.

"Tambahkan separuh saja Van. Masuk-keluarkan kepalanya yang besar ini…, Aduuh garis kepalanya enaak sekali".

Hasrat kami bertambah menggebu-gebu. Saya makin cepat, kian memompa penisku ke vagina mama mertuaku. "Maa, Evan masuk semuanya, masuk seluruh maa"

"Iyaa Van, enaak sekali. Pelirmu ngganjel sekali. Gede sekali rasane. Mama marem sekali" kami mendesis-desis, menggeliang-geliat, melenguh penuh kesenangan. Saat itu kakinya baru saja mengangkang saat ini dirapatkan.

Aduuh, vaginanya tebal sekali. Saya sekurang-kurangnya tahan kembali bila telah seperti ini. Saya makin ngotot memerkosa mama mertuaku, mencoblos vagina mama mertuaku yang licin, yang tebal, yang sempit (lantaran telah kontraksi pengen pucuk). Bunyinya kecepak-kecepok membuat saya bertambah bergairah. Aduuh, saya udah tak tahan kembali.

"Maa Evan pengin keluaar maa…, Aduuh maa.., enaak bangeet".

"ssh…, hiiya Van, keluariin Van, keluarin".

"Mama pun pengin muncaak, pengin muncaak…, Vanm, Vanm, Teruss Vanm", Kami berpagutan kuat-kuat. Napas kami berhenti. Penisku saya pencet kuat-kuat ke dalam vagina mama mertuaku.

Pangkal penisku berdenyut. menyemprotlah udah spermaku ke vagina mama mertuaku. Kami saling bersama nikmati pucuk persetubuhan kami. Kangen, kegentingan kami tumpah udah. Rasa-rasanya lemas sekali. Napas baru saja nyaris terputus bertambah jadi menurun.

Saya angkat tubuhku. Dapat saya cabut penisku yang udah menancap dari dalam liang vaginanya, namun ditahan mama mertuaku.

"Agar di dahulu Van…, Mari miring, kamu berat sekali. Kamu nekad saja…, masa' orang ditindih sekerasnya", tukasnya sekalian menekan hidungku. Kami miring, bertemu, Mama mertuaku menekan hidungku kembali, "Fundamen anak kurang ajar…, Berani sama mamanya.., Zaman mamanya dinaikin, Tetapi Van…, mama nikmat sekali, ‘marem' sekali. Mama tidak pernah merasai begini".

"Maa, Evan maa. Barangkali sebab curian ini ya maa, bukan punyanya…, Punyai bapaknya kok dikonsumsi. Mama pun, punyai anakya kok ya dikonsumsi, diminum", kataku memikatnya.

"Huush, basic anak nakal.., Mari dilepaskan Van.., Aduuh amburadul niih Spermamu pada tumpah di sprei, Keringatmu pun basahi tetek mama niih".

"Maa, malam hari ini mama tidak perlu pulang. Saya ingin dikelonin mama malam hari ini. Saya ingin diteteki hingga sampai pagi", kataku.

"Ooh gak boleh cah bagus…, jika dituruti Mama pula inginnya demikian. Namun jangan demikian. Bila tepergok orang dapat heboh deeh", jawab mamaku.

"Namun maa, Evan rasa-rasanya emoh pisah sama mama".

"Hiyya, mama tahu, namun kita mesti gunakan otak dong. Toh, mama tak kan kabur.., malah jika kita tidak berhati-hati, segalanya akan buyar dech".

Kami sama-sama berpegangan tangan, berpandangan dengan mesra, berciuman kembali penuh kehalusan. Tanpa kalimat yang keluar, tidak bisa direalisasikan dalam kalimat. Kami sama sama mencintai, di antara mama dan anak, di antara seseorang pria serta seorang wanita, kami ikhlas mencintai keduanya.

Malam itu kami mandi bersama, sama sama menyabuni, menggosok, meraba dan membelai. Penisku dicuci oleh mama mertuaku, hingga sampai tegak kembali.

"Sudaah, sudaah, tidak boleh nekad saja. Marilah kelak terburu malam".

Malam itu benar-benar sangatlah terkesan dalam hidupku. Hari-hari seterusnya berjalan normal seperti rata-rata. Kami sama-sama jaga diri. Kami menumpahkan kangen kami cuman jika sungguh-sungguh aman. Bokep Online Tapi kami banyak peluang sekedar utk berciuman serta membelai. Kadangkala dengan berpandangan mata saja kami udah salurkan kangen kami. Kami kian sabar, semakain dewasa dalam mengawasi interaksi cinta-kasih kami.

Sending to: 112 supporters

Add attachment (2MB filesize limit)

Your message has been sent!

Hi there! We're excited for you to send your first message.

Just a reminder, use messaging respectfully and appropriately. As a community of filmmakers and film lovers, we're here to tell stories, expand imaginations, build bridges and deepen empathy. Like everything on our platform, be supportive, create healthy debate, never get nasty and definitely don't spam. To use Seed&Spark, you agree to abide by our Code of Conduct.

Are you sure you want to delete this draft? There's no undo button!

The draft has been successfully deleted!

Ok

Hiding your project will prevent it from being viewed on the site or showing in search results on the web. Please note that it can take up to a week or two for Google to stop surfacing the page in search results. Anyone that clicks through before then will see the not found page.

Unhiding your project will allow it to be viewed on the site and show in search results on the web. Please note that it can take up to a week or two for Google to start surfacing the page again in search results.

Terms

>

Basic Info

Before we get started, please confirm the following:

By starting a project you agree to Seed&Spark’s Site Guidelines.

Terms

>

Basic Info

Cancel


Saved to Watchlist

Way to go, you just added something to your watchlist for the first time! You can find and view your watchlist at anytime from your profile.

Watch

Fund